review of Nenek

Tuhan,,ya Allah azza wa jalla
apa yang aku tangisi,,tak mungkin ku hanya meratapi keadaan Nenek yang berumur panjang itu.melainkan ketakjuban atas sebuah hal yang ironis. atas hidupku yang jauh diatas hidup sang Nenek tadi.atas diriku yang tiada bersyukur memiliki apa yang tidak dimiliki orang2 lain. tiba2 aq rindu rumah, oh ibu..
sampai di rumah, aq menangis. aq memanggil manggil beliau dan merengek tak ubahnya adikku jika ingin dibelikan mainan. ibuku bingung dan langsung memelukku.
“ada apa cah ayu..?”,begitu wanita yang kuanggap begitu tegar itu membelaiku lembut.
seolah tak mampu berkata aku hanya memeluknya dan membaui keringat yang slalu wangi dan juga aroma tubuhnya yang menenangkan aku..
“maafkan dicha bu….”
kataku sambil senyum.
“ah,kaya sinetron aja..”,ibuku slalu bercanda untuk menghiburku walau kutahu perasaannya yang halus itu membuatnya ingin menangis juga.
aku melepas peluknya,menuju kamar dan bersujud pada-Nya.
ketika makan malam aku menceritakan semuanya dan ibu hanya tersenyum memandangku,,senyum kasih sayang yang lama aku abaikan…
———————————————————————————
oh, nenek tua..(ya pasti lah dyc,,,)
terimakasih atas kedatanganmu di hidupku (kembali)
belakangan kudengar dari mantan tunanganku, bahwa beliau berjualan lagi dan sangat kelelahan. di trotoar yang seolah2 menguap karena udara panas itu, beliau tertidur dengan hanya setengah berbaring.di sampingya mentimun dan jeruk nipis ikut menahan derita sang Nenek..padahal di sekitarnya pusat perbelanjaan mewah dan glamour, menjual barang2 modern yang bisa melenakan beliau dari penglihatan orang2 borjuis itu.Dalam hatiku, aq berdoa agar dia tidak dicekal dg kasar oleh satpol PP..kalaupun harus,semoga nenek mendapatkan tempat berjuialan yang lebih layak. atau bila memang Allah menghendaki taldir lain, semoga takdir nenek adl duduk menikmati dunia dg asuhan org yg menyayanginya di usianya yang kian renta itu…
Duh Gusti,,,,
aq mengutuki diriku sendiri,atas rasa syukurku pada-Mu yang sering aq acuhkan.

~ditulis di diary 191008~
atas pengalaman di suatu hari Sabtu bulan september 2008…

BAG III-Nenek…-

ya Allah, siapa tuh???budhe?kenapa di situ.
“cantik, sini.”,budheku melambaikan tangannya.
ya iyalah emang aq mo kesitu,pikirku. “ya budhe,,dr mana?”,tanyaku ramah tanpa salam(budheku kristiani).
“ngantar adek Amel les (cucu pertamanya)”,jawab budhe. “mbak dika mau kemana?”,lanjutnya.
“ini mau ngambil motor..”,jawabku sambil mengambil uang untuk membayar.
“mbak gag usah,,mas2 biar itu disatuin ma ini!”,cegah budhe ku sambil menunjuk motor ku dan motornya.
“gag apa2n nih budhe?makasih ya”,kataku biasa aja.”saya pulang budhe”,sapaku sambil cium tangannya.
“ya ya,,hati2..”,kata budheku sambil tersenyum.
dia memang kristen tapi dia baik dan sangat menyayangi umat islam.uh,pikiran sekulerisme itu lagi!!!

Hatiku kembali riang, bukan karena dapat gratisan, tapi karena akhirnya Dia memberiku jalan untuk menyenangkan nenek..
aq ajak tunanganku (yang kini aq gag peduli) menuju tempat nenek tadi. anyway,singkat cerita aq sampai di dekat nenek.

“nek,harga jeruknya berapa?”,kataku menahna perasaanku sendiri.
“yang kanan ## buah haLganya #### mbak,tapi yang ini #### dapat ##.”,jawab nenek itu lirih dan cedal.
kutarik nafasku untuk membendung air mata yang sedari tadi berontak ingin tumpah.”saya bli yang ini ya nek,,”
diambilnya kantong plastik kecil,,lamban dan hati2.disuruhnya aq mengambil buah sebanyak ## sendiri. kuambil tanpa kuhitung. sampai kira2 #buah aq berhenti, tapi nenek itu seolah tau aq kurang mengambil dan dia menghitungnya 1 per 1. aq diam saja, aq melihat rambutnya yang memutih, giginya yang raib, juga bajunya yang amat lusuh. dia bilang “mbak,kuLang#..”
“i..iya nek,”kataku..
sebenarnya ingin kuberikan uang jajanku itu untuk nenek tanpa harus membeli dagangannya. tapi nenek itu bukan pengemis. aku gag mungklin membuat batinnya tersiksa dianggap sedemikian rendah..
aq cukupi sejumlah permintaan beliau dan uangnya aq serahkan. diamati dalam2 uang itu, dibolak-baliknya. mungkin sedang memperkirakan nominalnya. aku diam saja, menyungging senyum yang setengah kupaksakan.
“uangnya *****,ndak ada susuknya (kembalian),,” kata nenek itu
aku tergagap. “gag apa2 nek,buat nenek..”
aq sudah menangis,,”dag nek,,”
dan aku pergi meninggalkan beliau yang tersenyum melihat uang itu…

BAGIAN II “Nenek…”

DEG!!! mungkin kalau ada alat perekam di dadaku, sudah jelas terlihat di sana jantungku terhenti -atau mungkin bergerak lebih cepat,aq gag tau(kan gag ngrekam,,xix7)-.

apa yang terlihat olehku??? jeruk-jeruk nipis yang sebagian hijau dan sebagian lagi kering tertata tak rapi di depan…di depan seorang nenek tua kerput kurus dan lemah. otakku memutar kembali memori beberapa tahun lalu saat aq masih SMP.aku melihat gadis yang riang dan seorang sahabatnya asyik bersepeda, melihat nenek itu dan hanya bisa mengelus dada karena tak punya uang sepeserpun untuk membeli dagangannya.

UPS,,belum hilang sensasi yang sejak awal kubilang begitu hebat tadi, aq sudah berada di lampu merah pertigaan pemda. whats?? kumasukkan uang receh tadi dan setelah itu diam terpaku memeluk pinggang tunanganku. aq berkata padanya, “apa yang harus aku lakukan?apa kita tidak bisa membeli dagangan2 itu??”. dia bilang, “aku kan uwd gag punya uang receh. kan habis buat nonton tadi”.

Sial!!, pikirku, kenapa tadi aq buang 20ribu untuk nonton di layar tancep sialan (*sudah kubilang khan dia itu sialan). sekarang di dompetku cuma ada uang yang gag bisa kupakai karena selain jumlahnya terlalu besar untuk dikasih kembalian oleh nenek, tapi juga karena uang itu harus kubayarkan untuk sebuah kewajiban saat itu juga. tapi ada sich uang, cuman itu masalahnya. uang itu untuk biaya cuci motor. ah,,sudahlah.sampai di kost,aq jalan ke tempat cuci motor masih dg perasaan bersalah karena kejadian tadi.

« Older entries